Posted in Inspirasi Keluarga

Kasih Sayang Ibu

Ikut acara seminar 7 Keajaiban Rezeki Ippho Santoso, rasanya perasaan kita itu diaduk-aduk. Kadang dibikin ketawa, senyum-senyum sendiri, merenung, sedih, meneteskan air mata, bahkan sampai nangis. Salah satu sesi yang membuat saya sempat meneteskan air mata adalah ketika diputarkan video dan dibacakan bait-bait puisi renungan tentang Kasih Sayang Ibu kepada Anaknya & balasan kita sebagi anaknya atas kasih sayang ibu.

kasih sayang ibu

Kasih Sayang Ibu

Di bawah ini adalah bait-bait puisi renungan Kasih Sayang Ibu itu, semoga bisa menginspirasi kita untuk terus berbakti kepada orang tua kita.

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah. Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke kaca jendela.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursusmu. Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja. Sebagai balasannya, kau pergi begitu saja tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke suatu acara. Sebagai balasannya, kau minta dia duduk menjauh.

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa. Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya. Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu. Sebagai balasannya, kau tak pernah memberikan kabar.

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu. Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi. Sebagai balasannya, kau pakai kendaraan setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. Sebagai balasannya, kau meninggalkannya dan berpesta dengan teman-temanmu.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?” Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa berlibur.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu. Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya, “Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk mengajakmu ke kondangan seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya. Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena ‘mereka’ datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

Itulah gambaran kasih sayang ibu kepada anaknya dan balasan kita sebagi anaknya. Semoga memberi inspirasi kita untuk berbakti kepada orang tua kita.

Buat yang ingin nonton video bait-bait puisi renungan Kasih Sayang Ibu di Youtube, klik disini.

JIKA IBU DAN AYAH KITA MASIH ADA, JANGAN LUPA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN MEMBERIKAN KASIH SAYANG KITA LEBIH DARI YANG PERNAH KITA BERIKAN SELAMA INI, MESKIPUN KITA TAK KAN PERNAH BISA MEMBALAS KASIH SAYANG IBU & AYAH KITA

Posted in Inspirasi Keluarga

Kasih Sayang Ayah

Kalau berbicara tentang kasih sayang orang tua, kita biasanya akan lebih membahas kasih sayang Ibu daripada kasih sayang Ayah. Memang kasih sayang Ibu tak tertandingi. Bagaimana dengan kasih sayang Ayah? semoga ilustrasi berikut ini bisa memberi sedikit gambaran tentang kasih sayang Ayah kita.

Kasih Sayang Ayah

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bermain atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa setiap Ayah pulang kerja dan dengan wajah lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa yang kau lakukan seharian?

kasih sayang ayah

Pada saat engkau masih seorang anak perempuan kecil, Ayah mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.

Kemudian Ibu bilang, “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”. Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “kita beli nanti, tidak sekarang”

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa membelikan yang kamu inginkan.

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu sangat luar biasa berharga.

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu.

Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tapi lagi-lagi, dia harus menjagamu.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi sedikit nasehat, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik”.

Ayah melakukan itu semua agar kamu kuat.

Mungkin Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai suatu saat, ada seorang Lelaki datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya…. Saat Ayah melihatmu duduk di Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang dan menangis? Ayah menangis karena bahagia, sedih, bercampur haru.

kemudian Ayah berdoa. Dalam lirih doanya, Ayah berkata:

“Ya Alloh, Ya Tuhanku, Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Semoga ilustrasi di atas memberi gambaran tentang kasih sayang ayah kita. Serta menambah semangat untuk berbakti kepada orang tua dan membalas kasih sayang Ayah kita.

Posted in Inspirasi Keluarga, Kisah Inspiratif

Kisah Kasih Sayang Orang Tua

Kisah di bawah ini merupakan gambaran mengenai kasih sayang orang tua. Semoga bisa mengingatkan kita kembali mengenai betapa besarnya kasih sayang orang tua kita. Dan memberi kita inspirasi untuk lebih berbakti lagi kepada kedua orang tua kita.

berbakti kepada kedua orang tua

Kisah Inspirasi Kasih Sayang Orang Tua

Suatu petang seorang ayah dan anak berincang-bincang di halaman rumah. Anak ini baru menamatkan pendidikan tingginya. Mereka duduk-duduk sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting salah satu pohon. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak “Nak, apakah benda itu?” tanya si ayah. “Burung gagak”, jawab si anak.

Namun kemudian sang ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, Ayah!”

Si ayah mengangguk-angguk. Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “Itu Gagak, Ayah!”

Si ayah terdiam. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada tinggi & kesal kepada si ayah, “Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 4 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..!”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu tersenyum. Kemudian bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan.

Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.

“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf berikut.

“Hari ini aku di halaman rumah. Melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon mangga. Anakku terus-menerus menunjuk ke arah burung gagak itu dan bertanya, “Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “Burung gagak.”

Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 4 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.” Kata sang ayah sambil tersenyum.

Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon maaf atas apa yang telah ia perbuat.

PESAN MORAL: Jagalah hati dan perasaan kedua orang tua, hormatilah mereka. Ingat, betapa besar kasih sayang orang tua kita. Sayangilah mereka dan doakan ampunan untuk kedua orang tua.

Sungguh celaka, orang yang mendapati orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi dengan itu dia tidak masuk syurga (karena tidak sabar dalam berbakti). Semoga kita termasuk yang sabar dalam berbakti kepada mereka.

Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia dengan ketika kedua orang tua kita mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan

Kita sudah banyak mempelajari tuntunan berkenaan dengan kasih sayang orang tua & berbakti kepada kedua orang tua. Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi diamalkan??

———

Untuk menambah spirit kita dalam berbakti kepada kedua orang tua, silahkan baca >> berbakti kepada orang tua

Posted in Inspirasi Keluarga

Berbakti Kepada Orang Tua

Berbakti Kepada Orang Tua bukan hanya ditandai dengan cium tangan saat jumpa. Itu ekpresi yang teramat sederhana dan sangatlah mudah. Tugas kita dalam rangka berbakti kepada orang tua bukan hanya menghormati orang tua, tetapi juga membahagiakan orang tua.

Kita tidak akan pernah mampu membalas kasih sayang orang tua, karena tanpa mereka, kita tak akan lahir ke dunia. Jadi, walau ketika kecil seseorang tidak secara sempurna mendapat kasih sayang orang tua, sadarilah, tanpa mereka kita tidak akan pernah berkesempatan menikmati kehidupan di dunia.
kasih sayang orang tua

Berbakti Kepada Orang Tua – Membahagiakan Orang Tua

Jika tak mungkin membalas kasih sayang orang tua, tugas kita yang utama adalah membahagiakan orang tua. Bagaimana cara membahagiakan orang tua? Tanyakan kepada mereka, “Apa kebahagiaan terbesar yang mereka impikan?”

Apakah kita sudah dengan sungguh-sungguh tahu apa impian terbesar orang tua kita? Tahukan kita apa yang membuat mereka benar-benar bahagia?

Kita harus benar-benar menemukan jawaban yang keluar dari lubuk hati mereka. Banyak orang tua yang menjawab sekenanya karena  khawatir membebani anak-anaknya. Mereka bahkan kadang menjawab, “Anakku, melihat kamu bahagia, Bapak-Ibu sudah bahagia.” Bila kita mendapatkan jawaban ini, berarti kita belum menemukan jawaban yang sesungguhnya. Jawabannya harus tentang kebutuhan atau impian yang benar-benar ingin dilakukan atau dirasakan langsung oleh orang tua kita.

Apabila kita sudah yakin dengan jawabannya, fokuskan energi hidup kita untuk berbakti kepada orang tua kita, mewujudkan impian mereka. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi terkadang menyebabkan banyak orang hanya fokus kepada diri sendiri. Menjadi makhluk egois, atau sibuk memperbaiki penampilan diri dan melupakan orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

Apakah kita sudah menemukan jawabannya? Dan, apakah kita telah berusaha keras mengerahkan seluruh energi untuk mewujudkan impian orang tua kita? Sungguh, walau berusaha keras siang malam untuk membalas kasih sayang orang tua, Kita tidak akan pernah sanggup membalas kasih sayangnya. Karena itu, lakukanlah hal kecil yang pasti akan membahagiakannya, yaitu kita membantu mewujudkan mimpi-mimpi hidupnya.

*Artikel terinspirasi dari Buku ‘ON’ karya Jamil Azzaini