Posted in Inspirasi Hidup

Mulailah Belajar Berhentilah Menyalahkan

Ketika seseorang mulai menyalahkan kondisi di luar dirinya maka dia akan berhenti belajar. Untuk bisa mengambil pelajaran, maka kita harus berhenti menyalahkan dan mulai belajar membuat perubahan pada diri kita sendiri.

Tuisan ini terinspirasi dari Buku Life Revolution karya Tung Desem Waringin yang saya baca beberapa tahun lalu. Salah satu pembahasan dalam buku itu adalah tentang sikap mental negatif yaitu BEJ (Blame, Excuse, Justify) atau Menyalahkan, Beralasan, dan Pembenaran. Yuk kita bahas satu persatu.

Menyalahkan, Beralasan & Melakukan Pembenaran

Blame adalah menyalahkan. Maksudnya menyalahkan kondisi di luar dirinya atas ketidakberesan yang ada pada dirinya. Ketika seorang mulai Blame atau menyalahkan (menyalahkan pasangan, menyalahkan rekan kerja, menyalahkan faktor ekonomi, menyalahkan situasi politik) maka orang ini tidak akan belajar. Kelemahan yang paling besar dari orang yang menyalahkan segala sesuatu adalah bahwa dia merasa benar dan tidak perlu berbuat lebih baik lagi.

Excuse adalah beralasan. Ketika seseorang mulai mengajukan excuse (alasan), orang ini tidak akan belajar & bertindak. Dan karena tidak ada tindakan apapun maka tidak ada hasil apapun. Contoh excuse seperti mengatakan “Saya masih terlalu muda untuk melakukan itu“, atau “Saya Sudah terlalu tua untuk belajar ini“, “Saya cuma lulusan SMP“, ” Saya tidak berbakat“, saya cuma…., saya terlalu…., saya tidak…, saya masih…, dan sebagainya,

 photo berhentiberalasan.jpg

Justify adalah pembenaran. Yaitu upaya orang untuk menutupi kelemahan atau kemalasan untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaannya, sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Misalnya, “Terang saja saya tak berhasil, karena saya tidak punya gelar! Dan sama sekali tidaklah mengherankan kalau dia berhasil karena dia lulusan luar negeri!”

Ketika orang lain lebih berhasil daripada dirinya, orang yang suka justify ini akan melakukan pembenaran tanpa terinspirasi untuk belajar atau menjadi lebih baik lagi.

Bila melihat orang kaya, seorang yang suka melakukan justify akan mengatakan, “Tentu saja, anak orang kaya, sekolah di luar negeri, dapat modal banyak, sudah layak dan sepantasnya kalau sukses berbisnis”. 

Semua ungkapan itu sebenarnya disampaikan, atau digumamkan pada diri sendiri, dengan maksud untuk membenarkan keadaannya. Dia secara tidak langsung juga mau menegakkan sesuatu, yaitu “Nah, saya kan bukan anak orang kaya, bukan lulusan luar negeri, tak punya modal, maka wajar saja kalau saya tidak berhasil berbisnis”. 

Kata-kata orang yang suka justify seperti ini khas sekali. Mereka suka menggunakan ungkapan seperti “Terang saja…”, “tidak heran…”, “Sudah tentu…”, “Tentu saja…”, “Sudah selayaknya…”, “Sudah layak dan sepantasnya…”. dan sebagainya.

Sebenarnya, bisa jadi yang dikatakan oleh orang yang suka melakukan BEJ itu ada benarnya. Misalnya orang umur 19 tahun berkata, “Saya baru berumur 19 kok, khan belum punya pengalaman.” Benar bahwa dia memang berumur 19 tahun, benar bahwa dia belum punya pengalaman, tapi apakah benar kalau untuk berhasil di bidang yang dia geluti harus berumur lebih dari 19 tahun? Haruskan sudah memiliki banyak pengalaman?

Dalam contoh diatas, bisa jadi benar bahwa anak orang kaya yang sukses berbisnis itu memang sekolah di luar negeri dan modal banyak. Orang yang suka BEJ memakai kebenaran itu sebagai alasan untuk kemalasan dan keengganannya untuk berubah, sehingga kebenaran-kebenaran ini tidak ada manfaatnya. Satu-satunya manfaat adalah hanya membuat orang tersebut berhenti belajar dan bertindak untuk menjadi lebih baik.

 photo berhentimenyalahkanoranglain.png

So, mulai sekarang mari kita belajar & berhenti menyalahkan, berhenti membuat alasan-alasan, berhenti melakukan pembenaran yang tidak bermanfaat. ^_^

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *